Sejarah Silimakuta Bagian Dari Silsilah Marga Girsang dan Saribudolok. Sebelum kita berbicara sejarah terlebih dahulu Penulis berterima kasih kepada Tim Sejarah Marga Girsang. Yang dimana Tim Sejarah tersebut yang dapat disebut adalah Juster Girsang, SH, MH, Ir.Simson Girsang , dan Ir. Janerson Girsang dan klan marga Girsang semua nya. Yang dimana penulis sangat berterima kasih atas diartikannya Buku Bijdragen Tot De TAAL – LAND – EN Volkenkude van NEDERLANDSH – INDIE, Tahun 1910. Dimana yang di artikan adalah bagian mengenai Silimakuta yang ada pada buku tersebut.

Penulis sangat mengagumi atas kekompakan marga Girsang yang telah berhasil menyusun silsilahnya. Hal ini yang sebenarnya yang perlu digali untuk mengetahui sejati diri nenek moyang. Nah, demikianlah penulis akan menuliskan Silimakuta dari sumber buku Sejarah dan Silsilah marga Girsang. Yang dimana kisah yang dituliskan oleh penulis ini adalah sepenggal dari sejarah nya yang terdapat pada buku tersebut.

Sejarah Silimakuta

Raja Daerah adalah keturunan seorang pemburu, yang berasal dari pakpak yang mengejar seekor burung Nanggordaha ke Timur. Hewan itu di Ultop di lehu ( Sidikalang ). Dia bernama Girsang, Burung Nanggordaha itu di kejar anjungnya sampai Tanduk Banua ( Sipisopiso). Disini dia kehilangan jejak, tetapi girsang menjumpai seekor kerbau putih ( horbo jagat ). Dimana dia menduga berada disebuah perkampungan. Kemudian untuk bisa melihat daerah itu dan menegaskan pandangan ini. Dia mendaki Tanduk Banua dan anjing nya mengikutinya. Tetapi karena sepanjang hari tidak makan dan minum. Mereka keausan dan kelaparan sehingga si girsang terbaring pada sebuah pohon. Dia meminum beberapa tetesan air yang jatuh dari daun bibirnya sehingga kembali sehat. Anjing – anjingnya berjalan dengan lidah menjulur. Dan si Girsang yang akan memetik dawan merah dan memberiinya makan, Tetapi terbukti bahwa dawan itu beracun.

Kini ia segera memberi dawan putih dimana hewan itu pulih kembali seperti semula. Jadi Si Girsang mengetahui dawan merah beracun. Dan dawan putih sebaliknya bisa berfungsi sebagai obat. Dari gunung dia melihat sebuah kampung besar tempat marga sinaga tinggal. Kampung itu bernama nagamariah. Dia datang kesana dan diterima di sebuah rumah oleh penduduk.

Baca Juga :

Nagamariah Terancam Serbuan Musuh Dan Matinya Seribu Musuh ( Judul ini ditambahi oleh penulis marketmedan.com )

Pada saat Nagamariah terancam oleh serbuan musuh yang datang dari siantar dan bermalam didekat singgalang untuk memasak dan beristirahat disini. Sumber air di kaki gunung Singgalang yang diambil orang untuk diminum kini masih disebut Paya Siantar. Tuan Nagamariah yang melihat sejumlah besar musuh mengalami kesulitan. Tetapi kini muncul Si Girsang dengan usul bahwa dia akan menghancurkan seluruh musuh.

Tuan Nagamariah berkata, ” Ketika anda berhasil maka saya akan memberimu seorang bou sebagai isteri”. Kini dia mohon memberi perintah kepada warga Nagarmariah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin duri bambu, Pohon Jeruk, Rotan, Pandan atau tanaman lain. Si Girsang pergi mencari dawan merah, merendam nya dalam air dan menaburkan nya pada duri. Duri yang beracun setelah di taburkan di jalan ditempat musuh lewat. Dan air beracun disalurkan ke paya Siantar. Musuh terjebak pada duri dan meminum air sehingga semuanya mati. Setelah itu si Girsang menghadap Tuan Nagamariah dan berkata : ” Ada seribu musuh mati yang terbaring di gunung itu “. Karena itu gunung Singgalang dan daerah itu Disebut Saribudolok.

Kini si Girsang menikah dengan seorang Bou Nagamariah dengan cara seperti Raja. Sementara dia tinggal di Rumah Bolon, di sebelah kiri rumah Tuan Nagamariah. Si Girsang kini dikenal dimana – mana sebagai datu yang ahli ( Tabib ), Yang menenal seni menyampur racun. Dan Orang menyebutnya Datu Parulas. Orang sangat menakuti dia. Setelah Tuan Nagamariah meninggal , Datu balutan menggantikannya.

Baca Juga ;

Lima Kampung di Silimakuta ( Judul ini di Tambahkan Oleh penulis Marketmedan,com )

Beberapa saat kemudian Kampung Nagasaribu didekat tempat seribu musuh mati, yang menjadi ibukota Silimakuta. Nama ini dibenarkan karena pada saat ini ada 5 kampung yang termasuk wilayah Nagamariah, Yakni : Rakutbesi, Dolok Paribuan, Saribujandi, Mardinding dan Nagamariah.

Dari Isteri pertamanya Datu Balutan mendapatkan 4 putra yang tidak bisa disebut Putra Raja, karena ayahnya belum menjadi Raja. Mereka menjadi leluhur Tuan Rakut Besi, Dolok Paribuan, Saribujandi dan Mardinding. Setelah itu dia masih mendapat 2 putra. Putra sulungnya dari isteri kedua membangun kampung Jandi Malasang dan kemudian pindah ke Bage. Dimana ia membangun sebuah pasar dan bale, dengan kemampuannya sendiri dengan pertuanan sendiri ( Tuan Malasang ) dan tidak tunduk kepada kekuasaan Silimakuta. Sedangkan Putra bungsunya setelah kematian bapaknya menggantiikan kekuasaan Balutan menjalankan pemerintahan di Nagasaribu.

Sedangkan abangnya Tuan Malasang kekuasaannya baru tunduk ke Silmakuta setelah penegakan kekuasaan oleh Belanda sehingga Bage di gabung dibawah kerajaan Silimakuta.

Demikianlah sejarah Silimakuta yang diterjemahkan oleh Drs. J. Harto Juwono. Dan dituliskan kembali dari Buku Sejarah dan silsilah Marga Girsang. Dan untuk penulisan di situs ini di editor oleh Marketmedan,com. Oleh sebab itu penyusunan paragraf berbeda dengan aslinya. Demikian penulis ucapkan Diateitupa/terima kasih.