Wara Sinuhaji Tolong Jujur Dalam Menulis Sejarah Kata Yesaya Daniel Rambe. Sebuah perdebatan pun terjadi kalangan penggiat sejarah. Salah satu pernyataan yang kontroversi baru baru ini adalah dari Bapak Wara Sinuhaji yang merupakan juga sejarawan. Berikut ini salah pernyataan Wara Sinuhaji yang dijawab oleh Bapak Daniel Rambe yang merupakan juga ketua Grup Sejarah Batak.

Pernyataan Wara Sinuhaji

“Rasisme Dan Aperteid Belanda”
Menurut catatan catatan sejarah yang “berserak” saya dapat memahaminya, istilah “Batak” itu awalnya datang dari luar. Kemudian melekat dan menjadi identitas etnis atau suku orang orang Toba.


Label atau istilah “Batak” ini di wilayah semua ulayat orang Toba awalnya dipergunakan lembaga gereja dan para misionaris Jerman. Selanjutnya kemudian juga merembet ke suku lain, dikontruksi Belanda untuk orang Mandailing, Karo, Pakpak, Angkola dan Simalungen.


Tapi dari teori teori antropologi konsep ” Batak ” bukanlah sebagai bangsa, dan juga bukan sebagai sebuah suku atau etnis.Melainkan hanya istilah untuk sebuah alat pengelompokan agar lebih memudahkan kolonial Belanda dalam pengkajian dan pengendalian sebagai bangsa terjajah.


Masalahnya kemudian, istilah “Batak” sudah dicaplok oleh masyarakat Toba dan menjadikan nya sebagai identitas mereka . Artinya, otomatis suku Mandailing, Karo,dan Simalungun serta lainnya bukanlah menjadi Batak.
Dulu sebelum misionaris tiba istilah “Batak” konotasinya teramat jelek dan hanya dipakai oleh orang luar dan tidak pernah dipakai orang “Batak” sendiri.Jerman dan Belanda yang mempopulerkan istilah “Batak”, dan lama kelamaan konotasi jelek pun hilang dan berubah menjadi kebanggan sebagai identitas.


Istilah ini bukan berasal dari dalam, tetapi dikonstruksi misionaris Jerman buat orang Toba di awalnya. Kemudian dilanjutkan Belanda pada semua suku non Melayu di kawasan ini.
Rumusan konstruksi antropologi kolonial ini, kemudian hari di copy oleh Prof.Payung Bangun kedalam antropologi nasional dengan membuat sub etnik “Batak” seperti Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pakpak dan lain lain.


Karena bukan dari dalam, Mandailing menggugatnya kepengadilan dalam riwayat kasus wakaf bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan 1925. Etnis mandailing dinyatakan pengadilan terlepas dari Batak.


Belanda kemudian memunculkan istilah lain “Tapanuli” untuk menyatu kan Selatan dan Utara. Sejak peristiwa itu, kemudian Angkola memberi nama gerejanya GKPA, Simalungen GKPS ,Pakpak menjadi GKPPD tanpa ada lagi kata Batak.


Masalahnya tidak ada masalah kalau Toba sudah bangga dengan identitasnya sebagai “Batak”. Tetapi etnis lain, kalau bangga dengan jati diri dan identitas sukunya jangan saling koptasi dan klaim bagian dari “Batak”. No problem sebenarnya kalau saling menghargai.Tetapi di media sosial ini, kita semua sok tau dan sok paten, tidak mau mempelajari sejarah.


Bukankah Belanda datang menguasai kita yang masih bodoh ketika mereka tiba.Jumlah mereka sangat sedikit, tetapi mampu menguasai dan menjajah kita yang banyak ini, dalam waktu yang sangat panjang, dan melelahkan bertahun tahun karena gunakan pengetahuan.


Mereka ciptakan politik rasis, diskriminatif dan aperteid seperti di Afrika Selatan. Kolonial Belanda menciptakan rasa superior dan inferior human being ditengah masyarakat. Kolonial Belanda mengklasifikasikan penduduk kelas satu bangsa Eropah, penduduk kelas dua atau Timur Asing (Cina, Arab dan India ), dan kita sebagai Inlander hina dina sebagai penduduk kelas tiga yang terendah ? Bahkan hingga kini kita banggakan sebagai bangsa pribumi, sebagai sikap anti sama Tionghoa.


Orang orang Arab , India dan Cina tinggal di perkampungan eksklusif tidak boleh campur baur dengan yang lain. Untuk mengatur pemerintahannya sendiri Belanda mengangkat Kapiten Kapiten Cina, Arab dan India, sebagai kepala pemerintahannya sendiri.Banyak masih bisa kita lihat benih benih apa yang diciptakan Belanda ini.


Bukankah orang orang Arab dan Cina hingga kini masih banyak yang merasa kita adalah suku dan bangsa yang inlander, bangsa yang gam pang dikerdilkan dalam pergaulan dan kehidupan sehari hari.


Bukankah setelah kolonialis Belanda datang, terjadi pemecahan wilayah kepentingan administratif kolonialis, mereka ciptakan budaya feodalistik, menjadikan Raja dan Sultan untuk kepentingannya. Efeknya sangat dapat kita rasakan sampai sekarang, walau sudah merdeka 75 tahun. Bukankah kolonial Belanda kons truksi dan menjadikan Toba sebagai “Batak” yang superior terhadap etnik lain. Bangga mengklaim melalui sebuah karya buku fiksi si Raja Batak yang ditulis Demang WH.Hutagalung yang diadvisori oleh Belanda ??.


Orang orang Toba yang sudah bangga menjadi “Batak” lalu kemudian di imigrasikan ke Angkola Jahe, Julu dan Sipirok jumlahnya mendekati jumlah etnis setempat. Di fasilitasi tanah menjadi miliknya oleh Belanda seolah menjadi petani yang baik dalam swasembada pangan ?.


Demikian juga ke Lembah Alas, ulayat orang Karo ,sampai ulayat Alas ke Kotacane di Aceh Tenggara sana. Semua tanah kosong milik ulayat etnik setempat di caplok dan dijadikan menjadi ulayat orang orang “Batak”, didukung Belanda, melalui politik migrasi. Mengkoptasi etnik tempatan dalam rangka konsolidasi kekuasaannya di wilayah pedalaman dengan segelintir personil, gunakan bangsa yang dijajahnya.


Lihat Simalungun dan Tanah Pakpak atau Dairi. Semua penduduknya hampir didominasi mereka dan di tempat tertentu telah mayoritas diduduki oleh etnis Toba yang sudah menjadi “Batak” Bukankah hal ini semua bisa kita lacak dari prespektif dan kajian sejarah.


Hanya di wilayah Deli dan Serdang masa kolonial Belanda, migrasi mereka berhasil dihempang oleh Sultan Sultan di wilayah ini, karena mereka Kristen dan bukan Islam.Wilayah ini agak diberi kelonggaran bagi perantau yang beragama Islam, tapi bukan politik migrasi.Orang orang “Batak”, besar besaran merantau ke wilayah ini terjadi setelah revolusi.


Inilah benih benih rasis dan aperteid yang ditumbuh kembangkan Belan da dan masih tersisa mengental bekas dan sisanya di wilayah ini, walau kita sudah 75 tahun merdeka.
Belum lagi kita kulik bagaimana tentang kisah kisah memilukan tentang perbudakan yang dilakukan Belanda yang rasis dan persis sama dengan politik aperteid di Afrika Selatan yang kini sudah dienyahkan oleh Nelson Mandela.


Tidakkah anda pernah membaca bagaimana derita kuli kontrak yang diperbudak oleh Belanda di kebun kebun tembakau laknat keparat tersebut. Bukankah di tanah tanah jarahan mereka itu sampai sekarang kita kenal tanah HGU yang mening galkan kemelut tak berkesudahan dan terselesaikan akibat politik rasis,aperteid, diskriminatif dan rasa superior human being tersebut.
Mari dengan lapang dada dan kepala dingin serta rasional kita mengkaji tentang Perdebatan tentang apa yang disebut “Batak”. Apakah dia hanya sebatas Label atau sudah berubah menjadi sebuah identitas Suku atau Etnis.

Sumber : https://web.facebook.com/wara.sinuhaji.1?__tn__=%2CdlCH-R-R&eid=ARAoeuHenkrP3TpolT9ooHrGIE6Mwv3KoLThyisThn96-4LwpEc-6p8VG5ODQYM3hsOlxZ8cpPTNpJq9&hc_ref=ARTn77iigah3dsjn_1ST5pP8YSQQAXE6S1qsxdW5vFoQdRWPjTcJuFZlIu-Fza2h0kU&ref=nf_target&hc_location=group

Tanggapan Yesaya Daniel Rambe Tentang Pernyataan Wara Sinuhaji

Dengan adanya pernyataan Wara Sinuhaji tersebut mendapat tanggapan dari Penggiat Sejarah Batak. Dan bantahan tersebut pun di publis di grup Sejarah Dunia dan Nusantara ( SDN ) Offical. Berikut pernyataan dari Bapak Yesaya Daniel Rambe.

Akhirnya Drs. Wara Sinuhaji memblokir karena takut ketahuan ‘membohongi’ orangnya ketahuan. Berikut daftar kebohongan nya:

  1. Mitologi SRB itu hanya mitologi, sejajar dengan mitologi keyakinan agama apapun. Artinya cuma keyakinan yang menyatakan itu benar. Mitologi SRB dipercayai oleh Parmalim.
  2. Tidak benar kalau SRB ditulis WM Hutagalung tahun 1926, jauh sebelumnya Tiddeman dan PALE Van Dijk tahun 1880an-1912 udah menulis. Artinya mitologi ini akrab bagi orang Samosir.
  3. Tidak benar bahwa Belanda membawa orang Batak ke daerah lain termasuk Sumatera Timur untuk pembatakan. Tidak ada datanya. Yang ada adalah Jawa berimbang dengan Tapanuli. Kenapa bukan Jawanisasi ? Tapanuli yang dimaksud tidak hanya Toba. Tapi ada juga Tapsel. Tapi kok kesannya hanya menyudutkan Toba ya ?
  4. Tidak benar GKPA, GKPS, GKPP muncul karena mereka menolak istilah Tapanuli. Ga ada kaitan.

Tolong belajar jujur dalam menulis sejarah.. Sekarang zaman IT. Buku dan referensi yang sama bisa diakses oleh setiap orang. Tinggal mau membaca atau enggaknya saja. Dan jangan bohong. Ingat Tuhan dalam agamamu yang melihat semuanya. So stupid you are.

Pernyataan Yesaya Daniel Rambe

Sumber : https://web.facebook.com/groups/168096826919034/

Baca Juga :

Batak Bukan Ciptaan Misionaris Dan Belanda

Sering kali banyak sekali penyimpangan sejarah di buat berbagai sejarawan yang tidak pintar dalam memahami sebuah kisah sejarah. Dan paling parah adalah sebagian sejarawan menyatakan batak ciptaan Misionaris. Padahal Jika di kaji bahwa justru batak bertentang dengan tulis dari Hutagalung. Dimana sejarah batak tidak sesuai dengan alkitab. Dimana batak mempunyai kepercayaan sendiri sebelum agama kristen dan lainnya masuk pada bangsa batak. Dan hal ini membuktikan bahwa batak berasal dari bangsa itu sendiri