Sejarah Asal Mula Sinaga di Simalungun dan Tanah Djawa. Pada sebuah karya ilmiah Central Archaelogical Library tahun 1909. Menceritakan sebuah asal mula marga sinaga di Tanah Djawa. Penulis bukanlah seorang sejarawan akan tetapi akan keinginan tahuan penulis sehingga mencari sumber – sumber dunia akan sejarah Kerajaan di Simalungun. Sehingga penulis mempunyai karya ilmiah yang berisikan tulisan hampir 600 lembar dari satu karya ilmiah tersebut.

Adapun karya ilmiah ini menggunakan bahasa belanda. Sehingga penulis kurang memahami tulisan tersebut. Sehingga penulis ingin meminta maaf jika ada salah pengertian akan makna dari bahasa belanda ini.

Maka adapun yang akan dibahas oleh penulis adalah mengenai sejarah morga sinaga dan Tanah Djawa yang ada di kabupaten simalungun. Maka adapun pengertian dari bahasa belanda tersebut adalah sebagai berikut di bawah ini penulis menarik kesimpulan.

Sejarah Asal Mula Sinaga di Simalungun dan Tanah jawa

Seorang penguasa datang dari jawa. Dia datang ke urat yaitu sebuah desa yang ada di Pantai Selatan Semenanjung Samosir. Disana dia bertanya kepada raja tentang apa morganya, lalu di jawab Sinaga Sinoerat. Dan orang jawa tersebut di jawabnya lagi bahwa morga itu juga akan menjadi morga saya mulai sekarang. Dan kita adalah keluarga sekarang.

Dan tanah tersebut dikatakan bahwa tanah tempat saya duduk ini adalah tanah saya dan air ini adalah air saya. Dan tanah itu pun disebut Tanah Djawa. Dan sekarang dikenal tanah jawa yang pendiri adalah morga sinaga.

Dan satu lagi dikatakan seperti berikut :

De Oeroeng Tanah Djawa bestaat uit ( Penulis Menggunakan penerjemaham google artinya : Tanah Djawa Kuno terdiri dari ) :

  1. Eigenlink Tanah Djawa. en uit de Vasalstaatjes
  2. Dolok Periboean
  3. Simpangan Bolon
  4. Girsang

Demikianlah secara singkat penulis tuliskan. Dan berikut ini sumber bahas Belanda di bawah ini. Yang mungkin pembaca gunakan sebagai perbaikan dari inti sari yang di buat oleh penulis. Sehingga sebagai halak ( Orang ) simalungun dapat saling mengkoreksi tentang artikel ini.

Sumber Bahasa Belanda : Sejarah Asal Mula Sinaga di Simalungun dan Tanah Djawa

Een vorstoon van Java trok naar den vreemde om een eigen rijk te stiehten. Hij nam een handvol aarde van zijnen geboortegrond mede benevens een kruik ( gemaakt van de laboevrucht ) met water uit de rivier. Eerst toog hij naar Menangkaban en vandaar. Vergezeld van een maleier, steeds verder noordwarts. Eindelijk kwam hij te oerat, een kampong aan de zuidkust van het sehiereiland Samosir. Aldaar vroeg hij den Radja wat zijn marga was. Sinaga sinoerat, Inide het antwoord. Dan zal dat ook mijn marga voortaan zijn en zijn wij dns familie thans, zeide de Javaan.

Daarop toog hij verder : na het ( tegenwoordig Hataran Djawa ) in het rijk Si Tonggang, en trok vandaar naar de hoofdplaats van den vorst, alwaar zijn metgezel, de Malier, zwervens moede zich in de een zaamheid terugtrok ( Betapa ).

Op de hoofdplaats gekomen strooide hij de medegete aarde uit en zette zich daarop neder, de kruik water in de hand houdende. De Radja van de vreemde versehijning gehoord hebbende, ging met groot gevolg tot de vreemdeling Javaan antwoordde : de grond waarop ik zit, is mijn grond en dit water mija water. De vorst, er niets van begrijpende, zeide heel onvoorzichtig : zoo ge dat waar knnt maken, dan zijt gij in mijn plaats de radja. De oplossing was eenvoudig : de Javaan werd vorst en het land heette van toen aan : ” Tanah Djawa.”

Demikianlah penulis sampaikan tentang morga sinaga dari tanah jawa. Semoga tulisan ini mendapat koreksi dan masukan lagi dari hita simalungun on. Dan berikut ini juga kami mengutip beberapa pendapat di bawah ini tentang pendapat sahabat kita tentang morga sinaga.

Cerita dari Keturunannya Tentang Sejarah Sinaga dan Tanah Jawa

Sumber ini di ambil dari : http://sinagaeone.blogspot.com/2009/03/stambom-keradjaan-tanah-djawa.html

Saya seorang yang berasal dari keturunan Simalungun bermarga Sinaga Dadihoyong menurut cerita orang tua saya. keluarga kami berasal dari Desa Huta bayu marubun. Dulunya merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Tanah Jawa yang disebut partuanon dan leluhur saya sebagai tuan Marubun.

Menurut cerita orang tua saya Kerajaan Tanah Jawa dahulu terletak di Pematang Tanah Jawa. saat ini adalah Desa Pekan Tanah Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.


Peninggalan Kerajaan seperti istana (rumah bolon) sudah tidak ada lagi. karena telah lama hancur tetapi di bekas tapak istana (rumah bolon tersebut) atas kesepakatan keluarga telah di infaqkan untuk dibangun mesjid.


Yang masih tertnggal saat ini adalah kuburan raja-raja yang dinamakan Parsimagotan. Disana bersemayang 12 kuburan raja. Akan tetapi tanda-tanda seperti nama-nama dan kapan meninggalnya tidak ada tertulis. Sedangkan pekuburan tersebut terletak diantara dua buah Sungai (Bah) yaitu Bah Manigom dan Bah Kisat.

Orang tua saya ada memberikan sebuah naskah silsilah yang dibuat oleh leluhur saya yaitu Toean Maroeboen bertanggal 19-01-1937. Atas perintah Raja Tanoh Djawa dengan judul Stambom Keradjaan Tanah Djawa dari generasi 1(Pertama). Dalam arti Raja yang pertama kali dapat diketahui namanya sampai generasi ke-7 (naskah aslinya ada pada saya).

kemudian saya membuatnya kembali dan mencoba untuk mengembangkan garis keturunan sampai dengan sekarang ini. Namun belum dapat diselesaikan mengingat keberadaan saudara saudara kami yang berada di berbagai pelosok Nusantara dan di luar Negeri tercinta ini.

Baca Juga :

Silsilah Raja Ke 1

Dari Silsilah ini diterangkan raja ke-1 adalah Sorgalawan. Kemudian raja ke-2 Djontaboelan dilanjutkan oleh raja ke-3 Sorgahari. Sorgahari mempunyai anak laki-laki 2 (dua) orang, yang pertama bernama Oesoel dan yang kedua bernama Djintanari. Setelah Sorgahari wafat, anak pertama Sorgahari bernama Oesoel menjadi raja ke-4. Dan setelah Oesoel wafat tahta kerajaan dilanjutkan oleh adiknya bernama Djintanari menjadi raja ke-5.

Raja ke-6 bernama Timboel beliau adalah putra dari Djintanari. Raja ke-6 ini mempunyai putra sebanyak 5(lima) orang. Setelah raja ke-6 wafat tahta kerajaan jatuh kepada anak keduanya yang bernama Podang rani menjadi raja ke-7. Setelah Podang rani wafat maka beliau digantikan oleh abang tertuanya bernama Horpanaloean menjadi raja ke-8.

Pada masa kekuasaannya Horpanaloean mempunyai 3 (tiga) buah Parhutaan (kampung) yaitu :

  1. Huta Pematang Tanah Jawa.
  2. Huta Bayu raja.
  3. Huta raja Maligas

Beliau bergelar Tuan Raja Maligas, beliau bermukim di Huta Pematang Tanah jawa. Karena roda pemerintahan ada di Huta Pematang Tanah Jawa. Dan beliau memegang tampuk Kerajaan Tanah Jawa maka kekuasaannya adalah meliputi seluruh wilayah Kerajaan Tanah Jawa.Pada waktu-waktu tertentu ketiga huta ini selalu beliau kunjungi bahkan menginap di salah satu huta yang dikehendakinya.

Pada suatu waktu beliau jatuh sakit di Huta Pematang Tanah Jawa. Beliau minta diantar berobat ke Kramat Parsiroan di Huta Raja Maligas. Akan tetapi beliau tidak kunjung sembuh bahkan akhirnya meninggal dunia. Dan dimakamkan di Huta Raja Maligas pada tahun 1905. Bangunan makam beliau terbuat dari kayu teras yang memakai pasak. Dan tiang maka beliau diberi gelar Raja Nairassang. Beliau meninggalkan dua orang putra yang bernama Djintar dan Sangmajadi.

Karena kedua putra beliau belum cukup dewasa maka Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh Tuan Sanggah Goraha dari tahun 1907 sampai dengan 1912. (raja ke 9) Ditahun 1905 sampai dengan masa kepemimpinan Sanggah Goraha sebagai pemangku Kerajaan Tanah Jawa. Perlawanan terhadap Belanda terus terjadi di Tanah Djawa. Beliau sebagai salah seorang pemimpin perlawanan rakyat yang akhirnya dapat ditundukkan oleh Belanda dan beliau dibuang ke Batubara. Dan tidak pernah diakui sebagai Raja oleh Pemerintah Belanda dan sampai akhirnya beliau kembali lagi ke Tanah Jawa. Sanggah Goraha meninggal dunia pada tahun 1930.

Raja ke 10

Setelah Tuan Djintar cukup dewasa maka beliau diangkat menjadi raja Tanah Jawa yang ke-10 dan berkuasa dari tahun 1912 sampai degan tahun 1917.Pada masa Tuan Djintar diangkat menjadi raja Tanah Jawa. Kondisi rumah bolon Huta Pematang Tanah Jawa sudah tidak memenuhi syarat untuk ditempati karena sudah tua. Hal ini dapat dimaklumi karena telah dihuni oleh tiga generasi yaitu dari Tuan Djintanari, Tuan Timboel Madjadi dan Tuan Horpanaloean. Pembangunan rumah bolon yang baru tersebut dikepalai oleh Tuan Mahasar Damanik dari Sipolha.

Atas perintah raja Tanah Jawa yang baru yaitu Tuan Djintar maka dibangunlah sebuah rumah bolon. Yang baru diseberang sungai Bahkisat berikut dibuat parhutaan yang baru dinamakan Huta Dipar (artinya Huta diseberang). Letak Huta tersebut adalah disebelah Kantor Camat Tanah Jawa yang ada sekarang ini. Diparhutaan yang baru ini diangkat seorang penghulu yang bernama Hoela Sinaga (orang tua dari Toulong Sinaga mertua Marsekal Pertama Syahalam Damanik).

Karena adanya konflik dengan Pemerintah Belanda Tuan Djintar diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke kota Medan, beliau wafat di Medan pada tahun 1918 dan jenazahnya dibawa pulang ke Tanah Jawa oleh yang salah seorangnya bernama Tuan Raja Ihoet Sinaga (lahir 1879 meninggal dunia tahun 1997 adalah kakek penulis) anak dari Tuan Sanggah goraha Sinaga (pemangku kerajaan Tanah Jawa dari 1907-1912)

Karena kuburan raja-raja belum ada di Huta Dipar maka jenazah Tuan Djintar dimakamkan di kuburan keluarga di Huta Pematang Tanah Jawa didekat makam opung nininya yaitu Puang Namartuah dan opung dolinya Tuan Timboel Madjadi, karaena kuburan Tuan Djintar terbuat dari batu dan semen maka diberi gelar Raja Naisimin.

Setelah Tuan Djintar wafat, Kerajaan Tanah Jawa untuk sementara dipangku langsung oleh permaisurinya yaitu Puang Bolon boru Damanik dari Bandar dari tahun 1918 sampai dengan tahun 1919.

Berakhirnya Kerajaan Simalungun

Beberapa waktu kemudian datanglah Pemerintah Belanda dan bertanya kepada permaisuri “Siapakah diantara putra raja Nairassang (alm Tuan Djintar) yang akan diangkat menjadi raja?”.Puang Bolon tidak segera menjawab dan minta waktu untuk mempertimbangkannya. Sebagaimana diketahui yang berhak menjadi raja adalah anak Puang Bolon, akan tetapi anak beliau hanya satu-satunya yaitu seorang putri Silandit Bou istri dari Tuan Mahasar Ke-IV (Toean Akim Damanik dari Sipolha) .

Karena Pemerintah Belanda terus mendesak agar segera diangkat seorang Raja baru, maka Puang Bolon boru Damanik dari Bandar menunjuk Tuan Sangmadjadi adik dari Tuan Djintar untuk diangkat menjadi Raja Tanah jawa yang baru.

Pada Tahun 1919/1920 Tuan Sangmadjadi diangkat menjadi Pemangku Kerajaan Tanah Jaawa.
Pada tanggal 27 Juli 1921 Tuan Sangmajadi menandatangani Korte Verklaring yang kemudian disyahkan oleh Pemerintah tertinggi Belanda dengan Gouverments Besluit No.23 buln Januari 1922 ,sejak penanda tanganan Korte Verklaring tersebut maka telah syahlah Tuan Sangmadjadi menjadi Raja ke-11 Kerajaan Tanah Jawa.

Pada tahun 1940 sebelum beliau wafat, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Belanda berupa sebuah Tongkat Kerajaan berbalut emas dan Payung Kerajaan yang berwarna keemasan. Tuan Sangmajadi wafat tahun 1940 meninggalkan tiga orang putra.
Setelah Tuan Sangmadjadi wafat Kerajaan Tanah Jawa dipangku oleh putra tertua beliau yang bernama Tuan Kaliamsjah sampai terjadinya revolusi.Dengan terjadinya revolusi tersebut maka berakhirlah Kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun.