Bukti Suku Batak Simalungun 100 Persen Sudah ada Sejak Dulu. Simalungun adalah merupakan etnis dari suku batak. Yang dimana kita kurang tahu akan asal usul. Yang dimana hal itu sangat wajar karena kita tidak lahir pada masa itu. Namun kita sudah tahu sejak kecil bahwa kita merupakan suku batak dari oppung – oppung kita. Yang dimana dahulu tidak ada seperti sekarang adanya internet untuk mengerti akan identitas kita. Namun kita bersyukur ada tokoh Rohani yang memberikan pengalaman perjalanan hidupnya pada Bukunya. Sehingga kita dapat mengetahuinya meskipun hanya sekilas. Dan ditambah lagi peninggalan – peninggalan sejarah kerajaan di Simalungun.

Berikut ini adalah salah satu buku sejarah seorang tokoh simalungun rohani yang lahir pada masa penjajahan Belanda. Dan sebagai salah satu Tokoh Penerjemah Alkitab Ibrani menjadi bibel yang sekarang menjadi bahasa simalungun.

Kita sangat mengapresiasi sejarah yang dituliskan oleh Tokoh Rohani Pendeta J. Petrus Purba atau sebelum di babtis namanya adalah jadima Purba. Berikut ini adalah buku kisah sejarah yang di tuliskannya. Dalam buku ini dikisahkan pada tahun 1916 hingga sampai dengan 2004.

Dan kami berharap orang – orang GKPS Harus mengenal seorang tokoh Rohani GKPS ini lebih dalam lagi. Yang dimana membangun sebuah patungnya sebagai jasa dalam perkembangan injil di Simalungun. Dan sebagai bukti jasa seorang tokoh penerjemah Alkitab menjadi bibel dalam bahasa Simalungun.

Anak Menantu Dan Cucu Kumpul Semua

Sejalan dengan surat saya yang meminta agar semua anak-anak saya berkumpul, dicapailah kesepakatan pada 21 Oktober 2004 semua yang tinggalnya jauh sudah ada di Pematangsiantar. Tanggal 22 Oktoher semua sudah kumpul di rumah: dari Jakarta, Bandar Lampung, Pasir Mandogei, dan Pematangsiantar sekitarnya. Saya juga sudah sehat.


Sebelumnya saya meminta agar acara ini dimulai dengan kebaktian dan sakramen Perjamuan Kudus. Pdt Dr. A Munthe, MTh juga sudah dihubungi. Dan beliau menerima. Namun karena terbatasnya waktu, terlebih dahulu anak menantu dan cucu datang dari jauh, waktu yang ditentukan harus berobah-obah. Akhirnya diputuskan, kesempatan kali ini, dengan anak cucu saja dulu. Dan sebelum acara tersebut, keponakan saya St. Ir. Oskar Sipayung juga sempat datang. Namun karena mereka mengikuti Sidang Majelis Gereja sidea, ia juga tidak mengikuti acara tersebut.


Pukul 11.30 acara dimulai dengan susunan:
a) Mangan bersama: seperti lazimnya dalam adat Batak Simalungun anak cucu manurduk – menyuguhkan kepada kami orang tua makanan khusus yang telah disetujui sebelumnya.
b) Kebaktian Syukur segera menyampaikan nasehat / amanat.

Lengkapnya :

  • Nyanyian Pujian dan Haleluya
  • Resposoria
  • Nyanyian pujian dari semua cucu
  • Membaca Mazmur
  • Menyampaikan nasehat pada anak – anak kami, menantu dan cucu, diselilingi nyanyian memuji dan renungan.
  • Syukur dan Syafaat dipimpin oleh anak sulung, Marhaposan
  • Nyanyian Pujian dan Doa Penutup / Berkat

Setelah di tutup dengan doa dan berkat, semua anak cucu datang membberi salam pada kami, saya dan Inang.

Kemuliaan Tuhan Yang Melepaskan, memimpin, menyembuhkan dan menghidupkan

Saya sungguh bersukacita demikian juga anak cucu dengan acara tersebut. Benarlah Firman Tuhan yang harus saya terima menerima Pembaptisan dan Pengakuan Iman Percaya (dan yang menjadi judul buku ini) “ Hamuliaon¬Mu do na Huhasihon, ale Jahowa “, (Kemuliaan-Mulah yang Kudambakan, ya Tuhan Jahwe). Seperti memenangkan kemuliaan memerintah Tuhan yang membawa keluar dari Israel, memerintah, mendukung, mendukung mereka setelah keluar dari Mesir, kemuliaan-Nya juga yang mendukung dan mencukupkan (Sim, patorsa-torsahon ) hidup saya, hidup kami semua selama ini.


a) Adalah karena Kemuliaan Tuhan Jahwe jua yang memenangkan sana dan memberikan keberanian untuk memutuskan dibaptis, Meskipun bapa ibu saya tidak setuju.


b) Kemuliaan Tuhan Jahwe jua yang melepaskan, meluputkan saya dan adik saya, Leman Purba, kompilasi rumah kami tiba tiba tiba tiba di Pangambatan.


c) Kemuliaan Tuhan Jahwe jua yang menunjukkan jalan dan membimbing tangan saya dan tangan saya kompilasi kami (meliwati hutan dan sungai) mengungsi ke Pakpak.


d) Kemuliaan Tuhan Jahwe jua yang mendukung anak saya Agustin kompilasi tiba-tiba sekarat diterpa oleh kekuasaan kegelapan kompilasi di Pakpak, dan saya dan isteri saya berdoa, berseru kepada Tuhan, mati. Oleh karena itu, hidupkanlah dia. ” Demikian juga semua anak-anak kami, Tuhanlah yang mendesak.


e) Kemuliaan, Tuhan Jahwe jua lah yang menyediakan dan menyediakan makanan bagi kami, kompilasi hasil panen dengan “memagari” tanaman padi kami agar tidak dihabisi oleh tikus dan walangsangit.


f) Kemuliaan Tuhan jua yang memberikan pengetahuan dan kekuatan pada saya, dan juga untuk semua anak-anak cucu saya. Karena bisa saja-mata dari kekuatan saja, dari mana saya mampu menterjemahkan Alkitab (ke dalam bahasa Simalungun), melayani ke rumah-rumah sakit sampai saya lanjut usia?


g) Kemuliaan Tuhan yang membebaskan dan menghidupkan kembali penyakit saya ini. Jika hanya karena kepintaran manusiawi, maka isteri dan anak-anak saya pasti mendapat aib, karena menyediakan tempat tidur pembaringan mayatku dan yang perlu untuk pemakamanku, padahal itu semua tidak boleh dilakukan.


h) Kemuliaan Tuhan yang memberkati dan memberkati rumah tangga kami hingga 61 tahun, belum pernah bertengkar, dan lain-lain yang tidak dapat meraih satu persatu.


Dengan apa yang sudah saya sebutkan di atas, sungguh semua kerinduan dan mohon saya sudah didengarkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan kepada saya banyak anak cucu. Ia menggenapkan Firman-Nya dalam Mazmur 92: 13-16, yang dituangkan dalam Kidung Jemaan GKPS ” Haleluya “186:7.

Martumbor do parpintor saporti hayu masuk
Marranting do mamintor na songon ares in
Sidea na sinuan i parmingguan di
Marbuah do sidea i alaman -Ni in.

Semua itu sudah saya terima dari tuhan Jahwa. Seandainya aku tidak memutuskan mengikuti Yesus pada tahun 1936, boleh jadi aku tidak menerima apa pun. Karena moyang saya sampai dengan bapa saya, mereka miskin turunan. Bukan saja itu yang saya terima dan saya alami. Ayat 8 dari Kidung itu pun dengan jelas sudah saya lihat semua dalam hidup saya, demikian juga anak cucu saya :

Sai tubuh ginomparni bai na ubanan masuk
Margogoh do homani na dob matua masuk
Ringgas iambilankon na pintor Tuhan masuk
Jadi marhagedukon ganup pambahen – Ni di

Semuanya bukan kata-kata kosong. Namun demikian, saya memiliki alami dan saya melihat dengan mata saya dan kita semua. Saya sudah tua. Menjelang 89 tahun. Namun saya masih melihat lahir cucu-cucuku bahkan anak-anak dari cucuku. Walau aku sudah tua, sampai sebelum aku jatuh sakit (bulan Agustus lalu), akan tetapi aku tetap kuat. Itu sebabnya segenap hidupku, selalu saya serahkan untuk menyampaikan berita tentang kebenaran Tuhan. Bahkan semua itu sudah ada ditengah keluarga kita, anak mantu dan cucu saya.


Oleh karena sebagai kesimpulan, seperti yang sudah sering saya sampaikan, itu juga yang saya mintakan dan nasehatkan sekarang ini untuk semua anak-anak kami, ke-12 rumah tangga, mulai dari anak sulung hingga paling bungsu, dan juga ke cucu dan cicitku yang semuanya Mengalami 46 orang, yaitu (kebenaran Firman Tuhan dalam) Mateus 6: 33:


“Parlobei ma pindahi hanima harajaon ni Naibata ampa hapintoranni, dob ai tambahkononNi do ganupan ai bannima”
.


“Bebas dirilis Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.


Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah, dan kebenarannya; dan semua hal ini akan ditambahkan kepadamu ”.

Saya Telah Mengakhiri Perlombaanku ( 2 Tim 4 : 7 )

Pukul 16.00 selesai sudah acara di rumah kami. Dilanjutkan kemudian dengan bercakap-cakap, melengkapi isi buku ini, termasuk membicarakan pencetakannya. Kalau maksud saya kalau bisa dicetak secepatnya, karena (draftnya) sudah saya baca beberapa kali dengan dibacakan oleh Inang, anak-anak dan cucu saya, dan dengan menambahkan acara hari ini.


Tentang kemungkinan membuat bukunya dalam bahasa Indonesia dan dengan bentuk yang berbeda dengan memasukkan tulisan beberapa orang lain, akan dipikirkan kemudian.


Namun kemudian setelah mendengar permintaan anak saya David, tentang rencana Pemberkatan/Peneguhan Pernikahan cucu saya, Dani Jensen dengan calon menantu Ni Putu Susanti Rachmawati pada hari Sabtu 27 Nopember 2004 di GKI Tangerang, Jawa Barat, saya meminta agar Buku ini dicetak setelah Pemberkatan saja, agar acara tersebut dimasukkan didalamnya.


Dan saya sungguh merasakan sukacita dengan semuanya ini. Seperti kesaksian Rasul Paulus:


Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, … aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus“. (2 Timoteus 4:7; Pilipi 3:13,14).


“Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya” (1 Timoteus 1:10). Dan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Pilipi 4:13).


Karenanya sedikitpun tidak saya taku menghadapi kematian entah kapanpun saya dipanggil oleh Yesus. Saya akan bersama-Nya di surga. “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Pilipi 1:21).

Penutup

  1. Tuhanlah yang menghidupkan saya kembali, setelah selama enam hari saya tidak sadar, tidak mengetahui apa-apa, dan isteri dan anak-anak saya semua sudah pasrah serta telah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penguburan saya.

    Saya menuliskan semua ini untuk menyatakan perbuatan Tuhan yang besar dan ajaib didalam kehidupan saya, pekerjaan saya dan keluarga saya. Itu sebabnya saya berupaya mengingat semua hal itu dan meminta anak saya untuk menuliskannya, yaitu seperti yang ada dalam buku ini.
  2. Tidak ada sedikitpun tujuan saya untuk membesarkan diri dengan buku ini. Namun kiranya semua anak mantu dan cucu saya dan yang membaca buku ini mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan Jahwe yang hidup. Ia senantiasa bekerja di tengah-tengah dunia ini, didalam kehidupan kita, untuk memelihara (patorsa-torsa) semua yang dikasihi-Nya. Tuhan Jahwe yang setia, yang mahakasih dan penuh kuasa untuk melepaskan, memelihara hidup kita serta menghidupkan manusia anak-anak-Nya sekarang disini demikian juga hari esok bahkan sampai selama-lamanya.
  3. Semuanya ini sudah saya alami di dalam kehidupan saya sejak mulai sekolah pada tahun 1926 sampai saat ini. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus sajalah yang layak dipuji dimuliakan, hanya Dia yang setia, dan berkuasa mengatasi segala kesulitan dan kuasa apapun itu.
  4. Terpujilah Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus juga dengan terbitnya buku ini. Dan hanya surga yang menjadi kerinduan saya, agar bersama-sama dengan Dia dalam kekekalan. “Kemuliaan-Mu lah yang kudambakan ya Tuhan Jahwe. Amen.

    Dan apabila ada yang salah baik nama atau hari/tanggal yang saya sebutkan dalam buku ini, sebelumnya saya mohon maaf, karena ingatan saya yang terbatas.

    Pematangsiantar, Oktober 2004
    Pdt Dj. Petrus Purba

Sumber ini di ambil dari Buku kisah Pendeta J. Petrus Purba Yang berjudul Besar : Kemuliaan – Mulah Yang Kurindukan Ya Allah. Buku ini di tuliskan olehnya. Dan sekaligus buku ini bukti bahwa adanya Suku Batak Simalungun. Maka saya dan anda atau kita semua sebagai suku Batak Simalungun kita harus bangga dengan seorang sejarah Rohani dari GKPS ini.

Anak Menantu dan Cucu Kumpul Semua : https://kemuliaanmulahyangkudambakanyaallah.wordpress.com/xiii-saya-telah-menyelesaikan-perlombaanku/anak-menantu-dan-cucu-kumpul-semua/

Saya Telah Mengakhiri Perlombaanku ( 2 Tim 4 : 7 ) : https://kemuliaanmulahyangkudambakanyaallah.wordpress.com/xiii-saya-telah-menyelesaikan-perlombaanku/saya-telah-menyelesaikan-perlombaanku-dan-penutup/