Marketmedan.com Bapak Wahid pada pada waktu Ba’da Ashar Selasa, 11 Februari 2020 kemarin. Singgah lah di Mesjid Al – Muhabarok simpang matapao untuk beristirahat dan menginap di mesjid. Karna sudah lelah Berjalan kaki.

Bapak Wahid Pun berizin kepada ketua BKM Untuk numpang istirahat lantas di izinkanlah oleh ketua BKM Masjid Al-Mubarok untuk menginap.

Bapak Wahid adalah seorang suami. Dengan istri dan satu anak laki – laki yang bernama dewa dan satu anak perempuan nya . Dan sebenarnya bapak ini memiliki seorang anak pertama yaitu perempuan yang sudah menikah. Namun anak pertama tersebut tinggal di rumah dengan suami dan cucunya untuk menjaga rumah yang di tinggalkan.

Mereka memulai perjalanan dari Pontianak pada september 2016. Dan mereka menyatakan bahwa perjalanan mereka ini diawali dengan hati yang ikhlas oleh karena Allah SWT. Dan juga menyatakan bahwa mendapatkan mimpi yang mengisyaratkan sebuah petunjuk untuk berkelana atau mengembala ke pulau jawa.

Mereka mulailah perjalanannya dari pontianak dengan berjalan kaki dan menyeberang ke pulau jawa dengan kapal laut.

Sesampai di pulau jawa. Mereka langsung perlahan – lahan mengitari pulau jawa sebagaimana isyarat dalam petunjuknya. Mereka pun mendatangi sebuah pesantren. Pesantren yang di datangi adalah Pesantren Tebu Ireng.

Ketika bapak ini di informasikan bahwasan nya Gus Sholah yang merupakan pengasuh Pondok pesantren Tebu Ireng sudah wafat. Beliau menjawab ” Ya saya sudah dapat kabar juga “.

Ketika ditanya ” Berapa hari pak di jawa” Jawabnya Saya di jawa selama 6 bulan dan pernah menjadi pembersih dan sekaligus menjaga mesjid di karena kan masyarakat disana sangat membutuhkan.

Beliau Ditawarin Rumah dan Pekerjaan, Apa Jawab Pak Wahid ?

Beliau mengatakan bahwa mendapatkan pertunjuk berkali – kali dengan mimpi Rasullulah untuk melanjutkan perjalanannya ke mekkah. Dan lantas Bapak Wahid menceritakan mimpi tersebut kepada keluarganya. Dan Istri, anak – anak pun langsung mengikrarkan. ” Ayolah pak kita laksanakan.

Beliau pun ketika di jawa sempat juga ditawarin rumah dan kerjaan untuk bersihkan masjid. Akan tetapi bilau dengan hati yang tulus menjawab. Saya mau melanjutkan petunjuk yang saya dapatkan pak untuk menuju Mekkah.

Lantas beliau pun karena sudah 6 bulan lamanya beliau pun melanjutkan perjalanannya untuk ke mekkah. Dan ketika sampai di pulau sumatera tepatnya di kota Palembang. Lagi – lagi beliau ditawarkan rumah dan pekerjaan sama seperti kejadian yang di jawa.

Beliau juga bercerita bahwa Pak wahid lagi – lagi di tawarin tempat tinggal dan di kerjakan sebagai marmut masjid di sebelum Tebing tinggi. Akan tetapi beliau masih teguh dengan pendiriannya dan menjawab sama seperti ketika di jawa.

Pak wahid yang hanya bermodalkan dari pontianak hanya delapan juta rupiah untuk berkelana. Namun dia menyatakan bahwa uang segitu saja tidak habis – habis. Dimana terkadang uang sebanyak tiga juta rupiah masuk ke Rekening Atm, Pernah Lima Juta Rupiah masuk rekening. Dan banyak juga masyarakat yang terkadang memberi sedikit rezeki. Dan Muslim Lubis menjawab ” Itulah pak kalau kita hendak berjuang dan menolong agama ALLAH, pasti ALLAH akan tolong dan meneguhkan kedudukan kita yang selaras dengan FirmanNYA Q.S.Muhammad : 7. Jawab beliau benar – benar itu dek.

Beliau suatu ketika pernah bertanya dengan orang Aceh yang pada saat itu bertemu di palembang. Apakah bisa dari aceh Naik Kapal Makkah bisa pak tapi pada musim haji. Dari sabang bisa atau dari Aceh besar atau dari Banda Aceh. Tapi beliau hendak dari sabang. Muslim Lubis “Saya tidak silap pak, Memang benar pak. Pada zaman belum ada Pesawat rakyat Nusantara kalau hendak ke Makkah memang harus ke Aceh semuanya. Tepatnya di pulau Rubiah. Kata Muslim Lubis.

Cerita Tentang Peralatan Pak Wahid dari Pontianak

Hanya tas tempat menyimpan bajunya lah yang masih asli dari pontianak. Kalau tongkatnya sudah tiga kali ganti. Karena ada yang meminta nya sebagai kenang – kenangan. Kalu sandalnya sudah tiga atau empat kali ganti. Kalu bajunya udah pada ditinggalkan. Dan baju beliau selalu di kasih masyarakat begitu juga dengan lobe yang di pakai pak wahid.

Beliau dengan sabar dan ikhlas dalam berjalan karna ALLAH SWT itulah yang menjadi modal kesemangatan serta kekuatan untuk terus menanggapi petunjuknya yang hendak ke Makkah.

Beliau berpesan jangan pernah takut untuk memperjuangkan agama ALLAH dan umat islam itu semuanya bersaudara tinggal tergantung mereka mau apa tidak mengakui kita sebagai saudara. Begitu juga dengan masyarakat indonesia.

Dengan cuaca yang tadi pagi masih gerimis kecil. Mereka memulai lagi perjalanan dan berizin untuk melanjutkan perjalanan dan beliau pesan. Paling nanti kami bermalam di Lubuk Pakam.

Mari doakan bersama semoga pak wahid sampai Makkah aminn. Adapun ibrah yang bisa kita panuti dan menjadi tongkat pegangan hidup adalah sebagai berikut :

  • Kalau berjuang di agama ALLAH pasti ALLAH akan Tolong.
  • Kalau ALLAH sudah ridho pasti kita selalu di naunginnya
  • Tujuan serta cita – cita hanya bisa di capai oleh insan yang yakin dengan konsistennya.

Sumber FB : Muslim Lubis ( Serdang Bedagai, Rabu 12 Februari 2020 )

Baca Juga :