Pengertian Sistem dan Sistem Pendukung Keputusan

Rate this post

2.1 Sistem

2.1.1Pengertian Sistem

Sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul dan bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu sub sistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sub sistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Media penghubung antara satu sub sistem dengan sub sistem yang lainnya biasa disebut dengan penghubung (interface). Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu sub sistem ke sub sistem yang lainnya.Melalui penghubung keluaran (output) untuk sub sistem akan menjadi masukan(input) sub sistem yang lainnya. Dengan penghubung satu sub sistem dapat berinteraksi dengan sub sistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.Suatu sistem pasti mempunyai satu tujuan (goal) atau sasaran (objective). Sasaran dari sistem sangat menentukan masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yangakan dihasilkan system. Yeremia, Dewiyani dan Toni (2013) menjelaskan dalam jurnalnya bahwa sistem dapat didefinisikan dengan pendekatan prosedur dan pendekatan komponen. Dengan pendekatan prosedur, sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari prosedur-prosedur yang mempunyai tujuan tertentu. Sedangkan dengan pendekatan komponen, sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan untuk mencapai tujuan tertentu.

2.1.2 Karakteristik Sistem

Model umum sebuah sistem adalah input, proses, dan output. Hal ini merupakan konsep sebuah sistem yang sangat sederhana sebab sebuah sistem mempunyai beberapa masukan dan keluaran. Adapun karakteristik sistem sebagai berikut :
1.Komponen sistem (components)
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem tersebut dapat dapat berupa suatu bentuk subsistem. Setiap susbsistem memiliki sifat dari sistem yang menjalankan suatu fungsi tertentu dan  mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.
2.Batasan Sistem (Boundary)
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara sistem yang satu dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya.Adanya batas sistem, maka sistem dapat membentuk suatu kesatuan, karena dengan batas sistem ini, fungsi dan tugas dari subsistem satu dengan yang lainnya berbeda tetapi tetap saling berinteraksi. Dengan kata lain, batas system merupakan ruang lingkup atau scope dari sistem atau subsistem itu sendiri.

3.Lingkungan Luar Sistem (Environtment)
Lingkungan luar sistem adalah segala sesuatu diluar batas sistem yang mempengaruhi operasi suatu sistem.Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan atau merugikan.Lingkungan luar sistem yang bersifat menguntungkan harus dipelihara dan dijaga supaya tidak hilang pengaruhnya.Sedangkan, lingkungan yang bersifat merugikan harus dihilangkan supaya tidak mengganggu operasi dari sistem.
4. Penghubung Sistem (Interface)
Penghubung sistem merupakan suatu media (penghubung) antara satu subsistem dengan subsistem lainnya yang membentuk satu kesatuan, sehingga sumber-sumber daya mengalir dari subsistem yang satu ke subsistem lainnya. Dengan kata lain, melalui penghubung, output dari subsistem akan menjadi input bagi subsistem lainnya.
5. Masukan (Input)
Masukan adalah energi yang dimasukkan ke dalam suatu sistem yang dapat berupa masukkan yaitu energi yang dimasukkan supaya sistem dapat beroperasi atau masukkan sinyal yang merupakan energy yang diproses untuk menghasilkan suatu keluaran.
6. Keluaran (Output)
Keluaran adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna, juga keluaran atau tujuan akhir dari sistem.
7. Pengolah (Process)
Suatu sistem mempunyai bagian pengolah yang akan mengubah input menjadi output.
8. Sasaran (Objekive)
Sasarna dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan system dan keluaran yang akan dihasilkan sitem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya.Sumber :(Tohari Hamim, (2014), Astah-Analisa Serta Perancangan Sistem Informasi Melalui Pendekatan UML)

2.1.3 Klasifikasi Sistem

Menurut Tata Sutabri (2012:22), sistem merupakan suatu bentuk integrasi antara satu komponen dengan komponen lain karena sistem memiliki sasaran yang berbeda untuk setiap kasus yang terjadi yang ada di dalam sistem tersebut. Oleh karena itu, sistem dapat di klasifikasikan dari beberapa sudut pandang di antaranya :
1.Sistem abstrak dan sistem fisik
Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik, misalnya sistem teologia, yaitu sistem yang berupa pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan, sedangkan sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik, misalnya sistem komputer, sistem produksi, sistem penjualan, sistem administrasi personalia dan lain sebagainya.
2. Sistem alamiah dan sistem buatan manusia
Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam; tidak dibuat oleh manusia, misalnya sistem perputaran bumi, terjadinya siang malam, pergantian musim. Sedangkan sistem buatan manusia merupakan sistem yang melibatkan interaksi manusia dengan mesin yang disebut human machine sistem. Sistem informasi berbasis komputer merupakan contoh human machine sistem karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.
3. Sistem determinasi dan sistem probobalistik
Sistem yang beroperasi dengan tingkah laku yang dapat diprediksi disebut sistem deterministic. Sistem komputer adalah contoh dari sistem yang tingkah lakunya dapat dipastikan berdasarkan program-program komputer yang dijalankan, sedangkan sistem yang bersifat probabilistik adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probablistic.
4. Sistem terbuka dan sistem tertutup
Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa campur tangan pihak luar. Sedangkan sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan oleh lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan keluaran untuk subsistem lainnya.

2.2 Keputusan

Keputusan merupakan kegiatan memilih suatu strategi atau tindakan dalam memecahkan masalah tersebut. Tindakan memilih strategi atau aksi yang diyakini manajer akan memberikan solusi terbaik atas sesuatu itu disebut pengambilan keputusan. Tujuan dari keputusan adalah untuk mencapai target atau aksi tertentu yang harus dilakukan.
Kriteria atau ciri-ciri dari keputusan adalah:
1. Banyak pilihan/alternatif.
2. Ada kendala atau syarat.
3. Mengikuti suatu pola/model tingkah laku, baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur.
4. Banyak input/variabel.
5. Ada faktor resiko.
6. Dibutuhkan kecepatan, ketepatan, dan keakuratan (Kusrini, 2017 : 7). 

2.2.1 Pengambilan Keputusan

Keputusan (decision) secara harfiah berarti pilihan (choice). Pilihan yang dimaksud disini adalah pilihan dari dua atau lebih kemungkinan, atau dapat dikatakan pula sebagai keputusan dicapai setelah dilakukan pertimbangan dengan memilih satu kemungkinan pilihan. Seperti yang diungkapkan oleh Gito Sudarmo, bahwa keputusan terkait dengan ketetapan atau penentuan suatu pilihan yang diinginkan.
Definisi di atas mengandung pengertian, dalam keputusan yaitu :
1. Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
2. Ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik.
3. Ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
Setelah dipahami pengertian keputusan, selanjutnya dikutipkan mengenai pengertian pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan inti dari suatu kepemimpinan yang merupakan bagian dari organisasi dan manajemen. Dimana dalam pengambilan keputusan seseorang haruslah mengetahui beberapa hal. Antara lain sifat keputusan yang diambil seperti keputusan yang bersifat lama dan sesuai dengan dasar dari pada pendirian suatu organisasi kemasyarakatan dimana ini dilakukan sekali dalam pendirian suatu organisasi.
Pengambilan keputusan merupakan inti dari suatu kepemimpinan yang merupakan bagian dari organisasi dan manajemen.Dimana dalam pengambilan keputusan seseorang haruslah mengetahui beberapa hal.Antara lain sifat keputusan yang diambil seperti keputusan idiologis yakni keputusan yang bersifat lama dan sesuai dengan dasar dari pada pendirian suatu organisasi kemasyarakatan dimana ini dilakukan sekali dalam pendirian suatu organisasi.
Yang kedua merupakan keputusan yang bersifat stategis adalah suatu keputusan untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi dengan sebuah strategi-stategi yang pada dasarnya diambil dalam waktu yang agak lama. Keputusan yang bersifat strategis biasanya diambil untuk menentukan suatu kebijakan dalam tempo tahunan. Dan terakhir keputusan bersifat taktis keputusan ini diambil dalam tempo yang singkat dan hanya berakibat dalam tempo yang sangat singkat.
Herson (2014) dalam jurnalnya menjelaskan bahwa pengambilan keputusan didefinisikan sebagai suatu proses manusiawi yang didasari dan mencakup baik fenomena individu maupun sosial, didasarkan pada premis nilai dan fakta, menyimpulkan sebuah pilihan dari antar alternatif dengan maksud bergerak menuju suatu situasi yang diinginkan. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindak lanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
Steers mengemukakan bahwa “decision making is a process of selecting among available alternatives”. Disini jelas bahwa pengambilan keputusan menyangkut pilihan dari berbagai macam alternatif yang ada di organisasi. Selanjutnya Koontz mengatakan bahwa pengambilan keputusan merupakan seleksi berbagai alternatif tindakan yang ditempuh merupakan inti perencanaan. Senada dengan pendapatan tersebut Willian mendefinisikan bahwa pengambilan keputusan sebagai seleksi berbagai alternatif kegiatan yang diusulkan untuk memecahkan masalah.
Oleh karena itu, pengambilan keputusan pada tatanan yang lebih tinggi, apalagi pada masa transisi kebijakan perlu diperhitungkan masak-masak semua akibat yang mungkin timbul dari berbagai segi sedemikian rupa, sehingga diusahakan sejauh mungkin tidak ada pihak-pihak yang dirugikan diusahakan seminimal mungkin   .
Proses pengambilan keputusan meliputi tiga fase utama yaitu intelegensi, desain dam pemilihan. Kemudian Simon menambahkan fase keempat yaitu implementasi.

Tabel 2.2 Pengambilan Keputusan atau Proses Pemodelan

2.3 Sistem Pendukung Keputusan

2.3.1Pengertian Sistem Pendukung Keputusan

Menurut Alter Dalam Kusrini (2017:16) Sistem pendukung keputusan merupakan sistem informasi interaktif yang menyediakan informasi, pemodelan, dan pemanipulasian data. Sistem itu digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam situasi yang semiterstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, di mana tak seorang pun tahu secara pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat. 
DSS biasa dibangun untuk mendukung solusi atas suatu masalah atau untuk mengevaluasi suatu peluang.DSS yang seperti itu disebut aplikasi DSS.Aplikasi DSS digunakan dalam pengambilan keputusan.DSS menggunakan CBIS (Computer Based Information Systems) yang fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi, yang dikembangkan untuk mendukung solusi atas masalah manajemen spesifik yang tidak terstruktur. Aplikasi DSS menggunakan data, memberikan antarmuka pengguna yang mudah, dan dapat menggabungkan pemikiran pengambilan keputusan.

2.3.2 Konsep Dasar Sistem Pendukung Keputusan

Sistem pendukung keputusan (SPK) mulai dikembangkan pada tahun 1960-an, tetapi istilah sistem pendukung keputusan itu sendiri baru muncul pada tahun 1971, yang diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Micheal S. Scott Morton, keduanya adalah profesor di MIT.Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk menciptakan kerangka kerja guna mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen.Sementara itu, perintis sistem pendukung keputusan yang lain dari MIT, yaitu Peter G.W. Keen bekerja sama dengan Scott Morton telah mendefenisikan tiga tujuan yang harus dicapai oleh sistem pendukung keputusan, yaitu :
  • Sistem harus dapat membantu manajer dalam membuat keputusan guna memecahkan masalah semi terstruktur.
  • Sistem harus dapat mendukung manajer, bukan mencoba menggantikannya.
  • Sistem harus dapat meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan 

2.3.3 Kriteria Sistem Pendukung Keputusan 

BBS Bramanti (2015:22) menjelaskan Sistem pendukung keputusan dirancang secara khusus untuk mendukung seseorang yang harus mengambil keputusan-keputusan tertentu. Berikut ini beberapa karakteristik sistem pendukung keputusan yaitu :
1. Interaktif
Sistem pendukung keputusan memiliki user interface yang komunikatif sehingga pemakai dapat melakukan akses secara cepat ke data dan memperoleh informasi yang dibutuhkan.
2.  Fleksibel
Sistem pendukung keputusan memiliki sebanyak mungkin variabel masukkan, kemampuan untuk mengolah dan memberikan keluaran yang menyajikan alternatif-alternatif keputusan kepada pemakai.
3.  Data Kualitas
Sistem pendukung keputusan memiliki kemampuan menerima data kualitas yang dikuantitaskan yang sifatnya subyektif dari pemakainya, sebagai data masukkan untuk pengolahan data.Misalnya : penilaian terhadap kecantikan yang bersifat kualitas, dapat dikuantitaskan dengan pemberian bobot nilai seperti 75 atau 90.
4.  Prosedur Pakar
Sistem pendukung keputusan mengandung suatu prosedur yang dirancang berdasarkan rumusan formal atau juga beberapa prosedur kepakaran seseorang atau kelompok dalam menyelesaikan suatu bidang masalah dengan fenomena tertentu.

2.3.4 Komponen Sistem pendukung Keputusan 

Dalam bukunya, kusrini (2017: 25) menyatakan bahwa sebuah SPK dapat terdiri dari empat buah komponen,yaitu:
1. Subsistem Manajemen Data
Subsistem manajemen data memasuki satu database yang berisi data yang relevan untuk suatu situasi dan dikelolah oleh perangkat lunak yang disebut sistem manajemen database (DBMS). Subsistem manajemen data bisa diinterkoneksikan dengan data warehouse perusahaan, suatu repository untuk data perusahaan yang relevan dengan pengambilan keputusan.
2. Subsistem Manajemen Model
Merupakan paket perangkat lunak yang memasukkan model keuangan, statistik, ilmu manajemen. Atau model kuantitatif lain yang memberikan kapasitas analitik dan manajemen perangkat lunak yang tepat. Bahasa-bahasa pemodelan untuk membangun model-model kustom juga dimasukkan. Perangkat lunak itu sering disebut  sistem manajemen basis model (MBMS). Komponen tersebut bisa dikoneksikan ke penyimpanan korporat atau eksternal atau eksternal yang ada pada model.
3. Subsistem Antarmuka Pengguna
Pengguna berkomunikasi dengan dan memerintahkan sistem pendukung keputusan melalui subsistem tersebut.Pengguna adalah bagian yang dipertimbangkan dari sistem.Para peneliti menegaskan bahwa beberapa kontribusi unik dari sistem pendukung keputusan berasal dari interaksi yang intensif antara computer dan pembuat keputusan.
4. Subsistem Manajemen Berbasis Pengetahuan
Subsistem tersebut mendukung semua subsistem lain atau bertindak langsung sebagai suatu komponen independen dan bersifat opsional.

2.4  Pengertian Kredit

Kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu “credere” yang berarti kepercayaan dan bahasa Latin “creditum” yang artinya kepercayaan akan kebenaran. Oleh sebab itulah yang menjadi dasar dari kredit adalah kepercayaan. Pengertian kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Selain itu, kredit juga bisa berarti kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan atau ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati.
Dalam pelaksanaan pemberian kredit dikenal adanya prinsip 5C yang meliputi:
1. Character (kepribadian atau watak)
Penilaian kepada calon debitur tentang kebiasaan-kebiasaan, sifat pribadi, cara hidup, keadaan keluarga, hobby dan keadaan sosial. Penilaian karakter memang cukup sulit, karena masing-masing individu memiliki watak dan sifat berbeda-beda.Oleh karena itu para pengelolah harus mempunyai keahlian dan keterampilan serta pengetahuan psikologis untuk dapat menganalisa wakta calon nasabah.Penilaian nasabah ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana tingkat kejujuran serta itikad baik nasabah untuk memenuhi kewajibannya.
2. Capacity (kemampuan atau kesanggupan)
Suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi kewajiban-kewajibannya dari kegiatan usaha yang dilakukannya yang akan dibiayai dengan kredit dari lembaga pemberian kredit, kemampuan calon debitur ini dapat dilihat dari maju mundurnya usaha serta manajemennya.
3. Capital (modal atau kelayakan)
Jumlah modal sendiri yang dimiliki oleh calon debitur, yang diikutsertakan dalam kegiatan usahanya.Penyelidikan terhadap Capital pemohon tidak hanya dilihat dari besar kecilnya gaji setiap bulannya. Tetapi bagaimana distribusi gaji bulanannya ditempatkan  oleh calon debitur. Tujuan dari penilaian ini adalah untuk meneliti struktur modal yang dimiliki calon peminjam dan sejauh mana kemampuan modal sendiri dari calon debitur dalam memperoleh keuntungan.
4. Collateral (jaminan)
Barang jaminan yang diserahkan oleh calon debitur sebagai agunan (jaminan) kredit yang diterimanya.Jaminan yang dimaksud meliputi jaminan yang berupa benda bergerak ata tidak bergerak.Tujuan dari penilian ini adalah untuk mengetahui berapa nilai harta/kekayaan yang digunakan sebagai jaminan oleh debitur. Barang yag dijaminkan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah maka jaminan yang diagunkan dapat dipergunakan secepat mungkin.
5. Conditional of Economy
Kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang dapat mempengaruhi perekonomian pada kurun waktu tertentu yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kegiatan usahanya. Tujuan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui bagaimana prospek usaha calon debitur dimasa yang akan datang. Dalam manila kredit hekdaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan kemungkinan untuk dimasa yang akan datang sesuai sector masing-masing. Bidang usaha yang dibiayai hendaknya memiliki prospek yang baik sehingga kemungkinan terjadinya kredit bermasalah relatif kecil.Abner Adi Putra, Desi Andreswari, Boko Susilo (2015:5).

2.4.1 Penilaian Kelayakan Menerima Kredit 

Penilaian kelayakan menerima kredit seorang pelanggan mutlak harus dilakukan untuk mengetahui kemampuan seorang pelanggan dalam memenuhi kewajibannya membayar tagihan kredit apabila permohonan kredit pelanggan tersebut disetujui.Pada dasarnya penilaian kelayakan menerima kredit itu terbagi atas beberapa defenisi sebagai berikut:
  • Penilaian kelayakan pengajuan kredit ini merupakan evaluasi terhadap pelanggan secara keseluruhan .
  • Penilaian kelayakan menerima kredit ini pada dasarnya merupakan suatu proses mengestimasi dan menentukan nilai kelayakan seorang pelanggan menerima kredit.
  • Penilaian kelayakan menerima kredit ini membandingkan realita nyata dengan standart yang ada pada perusahaan.
  • Penilaian kelayakan menerima kredit ini dilakukan oleh manager.
  • Penilaian kelayakan menerima kredit ini menentukan kebijakan selanjutnya.

2.4.2 Unsur-unsur yang dinilai

Unsur-unsur yang diperlukan untuk dinilai sebagai syarat kredit diantaranya adalah : KTP, Kartu Keluarga (jumlah anggota keluarga), lokasi tempat tinggal, persetujuan suami/istri, dan punya aset yang dapat dijaminkan jika suatu waktu pelanggan cacat angsuran.

2.4.3 Unsur-unsur Kredit

Pada dasarnya pemberian kredit didasarkan atas kepercayaan, yang berarti bahwa pemberian kepercayaan oleh perusahaan sebagai pemberi kredit, dimana prestasi yang diberikan benar-benar sudah diyakini akan dapat dibayar 14 kembali dengan penerima kredit sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujui bersama. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur yang terdapat pada pemberian kredit adalah: 
  • Kepercayaan, yaitu keyakinan si pemberi kredit (bank) bahwa prestasi (uang) yang diberikan akan benar-benar kembali dari si penerima kredit pada suatu masa yang akan datang.
  • Waktu, yaitu jangka waktu antara saat pemberian prestasi dengan saat pengembaliannya. Dalam unsur waktu ini terkandung pengertian tentang nilai agio yaitu nilai uang sekarang lebih berharga daripada nilai uang di masa yang akan datang, sehingga dalam hal ini perlu adanya kontra prestasi yang harus berupa uang. 
  • Resiko, yaitu resiko yang dapat timbul pada saat pemberian kredit. Untuk menghindari resiko, maka sebelum kredit diberikan harus dilakukan penilaian secara cermat dan dilindungi oleh agunan atau jaminan kredit sebagai benteng terakhir dalam pengaman kredit.Penilaian didasarkan atas benafiditas calon penerima kredit sehingga dapat ditentukan sampai sejauh mana calon penerima kredit dapat dipercaya oleh perusahaan.
  • Prestasi, dalam hubungannya dengan pemberian kredit yang dimaksud prestasi adalah uang

2.5.1 Prinsip Dasar AHP(Analytical Hierarchy prosess)

Dalam meyelesaikan permasalahan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahami, Di antaranya adalah:
  1. Membentuk Hierarki
    Sistem yang kompleks bisa dipahami dengan memecahnya menjadi elemen-elemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan menggabungkannya atau mensintesisnya.
  2. Penilaian  kriteria dan alternatif
    Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1998), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat. Nilai dan defenisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty bisa diukur menggunakan tabel analisis seperti ditunjukan pada tabel  2.1.
  3. Synthesis of priority (menentukan prioritas)
    Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (Pairwise Comparisions).Nilai-nilai perbandingan relative dari seluruh alternatif kriteria bisa disesuaikan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks  atau melalui penyelesian persamaan matematika.
  4. Logical Consistency (Konsisten Logis)  
    Konsisten memiliki dua makna.Pertama, objek-objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi.Kedua, menyangkut tingkat hubungan antaraobjek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *